Kajian Islam

Kapan puasa Arofah dikerjakan ?

Berikut ini adalah isi khutbah Jum’at yang membahas tentang puasa Arofah. Di sampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Sya’roni dari Masjid Al Muhajirin wal Anshor Jl. Raya Krukut, Kel. Grogol, Kec. Limo, Depok pada tanggal 8 Dzulhijjah 1453 H / 3 Oktober 2014. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Innal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi’aati ‘amalinaa man yahdihillahu fala mudhillalah wa man yudlil fala haadiyalah. ‘Amma ba’du..

Dalam sebuah hadits dari jalur Abu Qotadah al Anshori Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa hari Arofah, maka beliau menjawab “puasa Arofah menggugurkan dosa tahun yang lalu dan tahun yang tersisa”. Dalam riwayat yang lain disebutkan “puasa Arofah, aku berharap kepada Alloh agar menggugurkan dosa tahun sebelumnya dann tahun setelahnya” diriwayatkan oleh Imam Muslim, at Tirmizdi dan Ibnu Majah.

Hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang keutamaan puasa Arofah yang amat besar, siapa saja yang mengamalkannya Alloh akan menggugurkan dosa-dosanya yang telah berlalu pada tahun itu dan dosa-dosanya yang akan datang hingga akhir tahun. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Alloh akan menggugurkan dosa dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun setelahnya.

Sungguh indah keutamaan hari Arofah, akan tetapi hadirin Rohimakumulloh pada tahun ini bagi sebagian kaum muslimin terjadi kebingungan tentang pelaksanaan puasa Arofah. Kenapa terjadi kebingungan? Karena terjadi perbedaan antara Indonesia dan Arab Saudi dalam penetapan 1 Dzulhijjah 1435 Hijriyyah sebagaimana terjadi perbedaan dalam pelaksanaan sholat Iedul ‘Adha.

Memang betul para ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini dan membagi kedalam dua pendapat,

Pendapat pertama:  mengatakan bahwa waktu puasa Arofah itu disesuaikan dengan wukufnya para jamaah haji di padang Arofah yaitu hari ini hari Jum’at (9 Dzulhijjah waktu Arab Saudi) dan inilah pendapat jumhur mayoritas ulama dimasa kini salah satunya ialah pendapat asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahulloh dan juga pendapat al Lajnah ad Daa’imah dan juga pendapat asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad Hafizhohullohu ta’ala.

Pendapat kedua : mengatakan bahwa waktu untuk berpuasa Arofah itu disesuaikan dengan rukyat Hilal bulan Dzulhijjah pada masing-masing negeri, dan inilah pendapat yang masyhur dari asy Syaikh Sholeh Bin Utsaimin Rahimahulloh yang kemudian diikuti oleh murid-murid senior beliau.

Karena ini masalah khilafiyah ijtihadiyyah maka tentunya harus ada kelapangan dada untuk legowo dalam menghadapi masalah ini. Tidak perlu saling ngotot, apalagi sampai menuduh orang yang berbeda pendapat dengannya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak baik. Dianggap orang yang menyelisihi pendapatnya memiliki pemikiran khowarij atau di cap sebagai ahlul bid’ah, ini tidak perlu.

Permasalahan ini sebagaimana permasalahan khilafiyah dalam masalah fiqh  lainnya yang hendaknya kita berlapang dada. Kalau setiap permasalahan khilafiyah kita selalu ngotot-ngototan bersikap keras maka dampaknya kita akan selalu ribut terus sedangkan Alloh melarang kita, yakni Alloh menjelaskan akibat dari sikap seperti itu akan menghilangkan kekuatan kita. Dan diantara bentuk sikap kaku dan keras dalam permasalahan semacam ini ialah anggapan bahwa permasalahan ini telah ada nash dalil yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan saja dan telah tegas dalam penunjukkannya, sehingga barangsiapa yang menyelisihi nash pantas untuk disalahkan. Inilah salah satu bentuk sikap kaku dan keras dalam menyikapi permasalahan semacam ini.

Jika seandainya redaksi hadits mengatakan bahwa puasa hari Arofah adalah puasa dimana para jamaah haji sedang wukuf di padang Arofah tentunya para ulama tidak akan berbeda pendapat didalam memahaminya karena maknanya sudah sangat jelas bahwa waktu puasa Arofah sesuai dengan wukufnya para jamaah haji di padang Arofah. Akan tetapi kenyataanya berbeda, redaksi hadits yang disebutkan oleh para ulama ahli hadits di kitab-kitab hadits Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan “Shiyamu yaumi Arofah ( puasa hari Arofah )”, disinilah muncul perbedaan didalam memahami sabda Nabi tersebut. Apakah maksud sabda Beliau ialah hari dimana para jamaah haji sedang wukuf di Arofah? Ataukah yang dimaksud adalah hari tanggal 9 Dzulhijjah yang dinamakan dengan hari Arofah?

Oleh karena itu hadirin sidang jumat, pada kesempatan yang mulia ini khotib berusaha menjelaskan beberapa hal untuk menjawab kebingungan di tengah-tengah ummat :

  1. Ketahuilah bahwa dalam Islam penentuan masuknya bulan Dzulhijjah ataupun bulan Romadhon ataupun bulan – bulan hijriyyah lainnya hanyalah dikenal dengan cara melihat hilal. Hilal itu adalah bulan yang muncul diawal tanggal 1 sampai tanggal 3. Inilah cara yang pertama yaitu melihat hilal, atau menggenapkan bulan menjadi 30 hari pada saat hilal tidak terlihat karena cuaca mendung atau yang lainnya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam Al Baqoroh 185 “…barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan maka berpuasalah…”. Alloh telah mengaitkan perintah puasa dengan terlihatnya hilal atau bulan. Begitupula dalam hadits, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam “berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal, lalu apabila tertutupi dari pandangan kalian ( hilal tidak terlihat) sempurnakanlah bulan itu menjadi 30 hari”.

Dari ayat dan hadits  diatas kita dapat mengetahui  bahwa masuknya bulan dalam Islam hanyalah dengan dua cara              saja, cara yang pertama disebut dengan ru’yat hilal yaitu penampakan hilal setelah matahari terbenam pada tanggal            29 dan cara yang kedua adalah ikmal yaitu menyempurnakan bulan menjadi 30 hari disaat hilal tidak terlihat pada                tanggal 29 setelah matahari terbenam.

  1. Penentuan masuknya bulan dengan ilmu hisab atau ilmu falak adalah HAL YANG TIDAK DIKENAL dalam Islam karena menyelisihi ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa masuknya bulan hanyalah dengan dua cara tersebut yang dijelaskan diatas. Kemudian menetapkan bulan baru dengan ilmu hisab atau ilmu falak ini jelas telah mengesampingkan cara yang telah ditempuh oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, kemudian meyelisihi kesepakatan ulama sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Thaimiyyah, Ibnu ‘Abdil Barr dan selain keduanya.
  2. Ketahuilah bahwa penentuan masuknya bulan baru adalah wewenang penguasa, wewenang ‘ulil amri. Oleh karena itu disaat pemerintah kita telah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1435 Hijriyyah jatuh pada hari Jum’at 26 September 2014 karena mereka (pemerintah) telah melakukan cara yang kedua yaitu ikmal, menyempurnakan hitungan bulan Dzulqo’dah menjadi 30 hari, dan putusan tersebut telah benar dan telah mengikuti petunjuk Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam menentukan masuknya bulan Dzulhijjah karena mereka (pemerintah) berkata dalam sidang isbat “di 61 titik pada 33 propinsi tempat pemantauan hilal tim ru’yat hilal yang diutus tidak ada satupun yang melihat hilal”. Sehingga secara otomatis bulan Dzulqo’dah digenapkan menjadi 30 hari.

Maka kewajiban kita selama pemerintah tidak menyuruh kita dalam hal yang munkar adalah taat pada mereka dalam            perkara yang baik / perkara yang ma’ruf. Sebagaimana yang Alloh perintahkan dalam Al Quran surat An Nisa ayat 59           “wahai orang-orang yang beriman taatlah kepada Alloh, dan taatlah kepada Rosululloh, dan ulil ‘amri diantara kalian” .

  1. Berkaitan dengan pelaksanaan puasa Arofah, hadits-hadits menjelaskan bahwa syariat puasa tersebut mengandung dua kemungkinan,

Kemungkinan pertama, puasa Arofah ialah karena adanya wukuf di padang Arofah di Mekah Al Mukaromah

Kemungkinan kedua, puasa Arofah ialah karena tanggal 9 Dzulhijjah.

Point yang kedua inilah yang LEBIH JELAS, kenapa? Karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah menamakan puasa Arofah meskipun kaum muslimin ketika itu BELUM IBADAH HAJI. Bahkan para sahabat sudah mengenal puasa Arofah yang jatuhnya tanggal 9 Dzulhijjah meskipun kaum muslimin BELUM MELAKSANAKAN HAJI, BELUM ADA WUKUF.

Disebutkan dalam Sunan Abu Dawud, dari Hunaiydah Ibnu Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mereka mengatakan, Rosululloh bersabda “adalah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, pada hari Asy Syuro yaitu 10 Muharom dan 3 hari setiap bulan” HR. Imam Abu Dawud dan di shahihkan oleh Syaikh Al Albani Rohimahulloh. Ini menunjukkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah terbiasa puasa Arofah padahal kita tahu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam seumur hidupnya melaksanakan haji hanya satu kali, yaitu yang disebut dengan haji wada’ dan ternyata Nabi dan para Sahabat sudah terbiasa puasa di hari Arofah meskipun tidak ada seorang muslimpun yang wukuf di padang Arofah.

Maka ini menunjukkan bahwa konsentrasi penamaan puasa Arofah itu berkaitan dengan waktu tanggal 9 Dzulhijjah dan bukan berkaitan dengan tempat padang Arofah yang para jamaah haji sedang wukuf didalamnya.

Bayangkanlah kondisi kaum muslimin sekitar 200 – 800 tahun yang lalu sebelum ditemukannya alat-alat komunikasi moderen semacam internet, handphone dll maka jika puasa Arofah penduduk suatu negeri kaum muslimin harus sesuai dengan wukufnya jamaah haji di Mekah di padang Arofah maka bagaimanakah puasa Arofahnya penduduk-penduduk negeri itu yang jauh dari Mekah? Misalnya Indonesia, India, China dll.

Demikian juga bagi yang hendak berqurban, maka harus sejak kapan dia harus menahan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambutnya dan kapan dia boleh menyembelih hewan qurbannya? Apakah harus menunggu kabar dari Mekah yang dia utus seseorang untuk pergi ke Mekah, yang bisa jadi datangnya kabar tersebut berbulan-bulan kemudian.

Jika memang yang ditujukan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya jamaah haji di padang Arofah dan bukan dengan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan pada masing-masing negeri maka bagaimanakah cara berpuasanya saudara-saudara kita yang jauh di wilayah timur seperti Irian Jaya yang perbedaan waktu antara Irian Jaya dengan Saudi Arabia ialah 6 jam lebih awal?

Jika penduduk Irian Jaya harus berpuasa tepat pada hari yang sama dengan wukufnya jamaah haji di padang Arofah, misalnya mereka puasa pada jam 6 pagi WIT maka di Mekah belum saatnya untuk wukuf sebab di Mekah masih jam 12 malam hari, di Irian Jaya sudah jam 6 pagi namun di Mekah masih jam 12 malam. Tatkala penduduk Mekah baru mulai wukuf yaitu jam 12 siang ba’da dzuhur sedangkan di Irian Jaya sudah jam 6 sore dan itu sudah waktu maghrib, lantas bagaimana bisa menyesuaikan puasa Arofahnya bersamaan dengan wukufnya jamaah haji disana?? Ingatlah padahal agama kita dibangun diatas kemudahan.

Dari sedikit penjelasan ini kita simpulkan bahwa BOLEH melaksanakan puasa Arofah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arofah. Ini menunjukkan puasa Arofah yang dimaksudkan adalah TANGGAL 9 DZULHIJJAH di negeri yang dimana kita tinggal padanya.

Yaitu setiap negeri menyesuaikan pada tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan ru’yat hilal nya di negeri dia berada.

Akan tetapi sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendapat yang pertama yang telah dijelaskan diawal pun sangat kuat dan itu juga merupakan pendapat jumhur  / mayoritas ulama maka permasalahan seperti ini SANGATLAH TIDAK PANTAS UNTUK DIJADIKAN AJANG UNTUK SALING MEMAKSAKAN PENDAPAT APALAGI MENUDING DENGAN TUDUHAN KESALAHAN MANHAJ ATAU KESALAHAN AQIDAH dsb.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatukan kita dalam ukhuwah Ismlamiyah , dan hendaknya kita beradab dengan adabnya para ulama didalam menghadapi permasalahan khilafiyah dan hendaknya kita mengenal manhaj salaf dalam menyikapi permasalahan khilafiyah jangan sampai kita mengaku-ngaku bermanhaj Ahlus Sunnah tetapi justru kita tidak tahu manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi permasalahan khilafiyah.

 

Barokallohu lii wa Lakum fil Quranil Adzhiim…

 

Hadirin sidang Jum’at Rahimakumulloh

sebagian jamaah haji menyangka bahwa haji dan apabila wukuf di Arofah bertepatan dengan hari Jum’at maka pahalanya seperti 70 kali haji, dan mereka menyebutnya sebagai haji akbar. Sesungguhnya persangkaan ini tidaklah tepat, karena tidak ada dalil yang menunjukkan akan hal ini. Adapun hadits yang sering dijadikan sandaran oleh mereka atau oleh sebagian orang adalah SEBUAH HADITS YANG TIDAK SHAHIH YANG TIDAK ADA ASALNYA, yang berbunyi “sebaik-baik hari ialah hari Arofah, jika bertepatan dengan hari Jum’at maka ia lebih baik daripada 70 haji yang tidak bertepatan hari Arofahnya dengan hari Jum’at”.

Semoga Alloh senantiasa memberikan Taufiq untuk kita semua

Wa Shollallohu ‘Ala Nabiyyina Muhammad, Wal Hamdulillahi Robbil ‘Aalamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s